Roma 14: 13-23
“Panggilan orang percaya di bumi milik Tuhan.”
Syalom. Damai di hati
Beberapa hari yang lalu, di beberapa
tempat, apalagi di ibu kota, persatuan kesatuan negara Indonesia sementara
diuji dan digoyahkan oleh sekelompok orang yang bertindak anarkis setelah
menanggapi hasil pemilihan umum.
Tidak dapat kita pungkiri negara kita
indonesia adalah negara majemuk, yang artinya terdiri atas berbagai suku,
agama, ras, golongan, dengan segala variasi bahasa, tradisi, dan aturan di
setiap daerah. Itulah yang membuat indonesia menjadi negara yang kaya.
Masyarakat yang berbeda-beda ini,
menghasilkan ide, pandangan, pendapat yang berbeda-beda pula. Satu pandangan
tidak dapat dipaksakan kepada semua orang, dan begitu pun semua orang kadang
tidak memiliki pandangan yang sama.
Ibarat angka 6, kalau kita lihat dari
sisi bawah, tapi terlihat seperti 9 kalau kita lihat dari sisi sebelahnya.
Artinya semuanya memiliki sudut pandang berbeda, dan kita tidak dapat
menyalahkan orang lain jika pandangannya berbeda dengan kita.
Jemaat Tuhan,
Perbedaan pandangan inipun terjadi pada
jemaat di Roma, yang merupakan penerima surat yang ditulis Paulus ini.
Roma adalah jemaat yang cenderung baru
pada saat itu, sehingga di pasal pasal awal surat, Paulus menekankan soal iman
kepada Kristus adalah satu-satunya jalan untuk keselamatan kekal atau surga,
dan bukan karena aturan agamawi, bukan karena perbuatan baik, bukan karena
tuntutan tradisi.
Roma diisi jemaat-jemaat yang majemuk
juga. Roma yang pada suatu masa merupakan pusat pemerintahan sebagian eropa dan
asia, kekuatan dan daya tarik ini membuat Roma dipenuhi orang-orang dari
berbagai macam asal daerah dengan membawa tradisi mereka masing-masing pula.
Paling banyak di jemaat Roma adalah
orang Yahudi. Yang merupakan orang-orang pemegang tradisi Yahudi atau Israel
dari masa Musa. Dikarenakan mereka tumbuh dan besar dengan tradisi hukum taurat
dengan segala aturan dan tata cara kehidupan yang dianut. Hanya saja
orang-orang yahudi di jemaat Roma, bersama dengan suku bangsa lain, seperti
Yunani, Asia kecil, dan mediteranian, telah percaya dan menerima Kristus
sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Disisi lain, jemaat Roma yang merupakan
orang Yunani, dengan segala tradisi mereka yang sebagian besar berkisar pada
penyembahan berhala atau dewa dewi, yang sepenuhnya sudah ditinggalkan, menyisakan
sama sekali tidak ada tradisi lagi yang dipraktekan oleh jemaat asal Yunani.
Ini membuka peluang kepada jemaat asal
Yahudi mulai membanding-bandingkan tradisi mereka, dan bahkan mencoba untuk menyuruh
jemaat lain untuk ikut mempraktekan tradisi dan aturan yang ditulis dalam hukum
Taurat. Termasuk cara ibadah, hari ibadah, bahkan daftar makanan yang haram dan
halal menurut Yahudi.
Jemaat yang bukan orang Yahudi, yang
tumbuh bukan dengan tradisi tersebut merasa kesulitan, apalagi ketika orang
yahudi mulai menambah-nambahkan aturan dalam persekutuan, sehingga malah
mempersulit jemaat dan bahkan ada yang mulai menarik diri dan menjauh. Hal ini
membuat kurang eratnya persekutuan jemaat mula-mula di Roma.
Jemaat Tuhan,
Kita tidak dapat pungkiri, persoalan
yang demikian juga sering terjadi pada persekutuan kita, orang Kristen jaman
sekarang.
Jemaat Roma bisa menjadi pembelajaran
bagi kita semua. Mencegah munculnya persoalan yang demikian dan menanggulangi
jika hal itu sudah terjadi, kita dapat melakukan beberapa hal.
1. Saling menerima
Artinya
kita siap membuka diri terhadap setiap perbedaan. Baik itu perbedaan di dalam
jemaat maupun diluar jemaat. Baik itu perbedaan paling mendasar sekalipun, berupa
pilihan, pandangan, pendapat.
Roma
14 ayat 1: “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan
pendapatnya.”
Ayat
pembuka pada pasal ini kurang lebih memberikan padangan pada kita bahwa hal
pertama yang kita harus lakukan adalah saling menerima satu dengan yang lain,
tanpa membanding-bandingkan.
Terlepas
dari semua perbedaan, kita adalah sama dimata Tuhan. Kita semua sama sama orang
berdosa yang diselamatkan dengan Cuma-Cuma karena penebusan dalam Kristus (Roma
3:23-24).
Hal
ini saja seharusnya membuat kita lebih rendah hati dan tidak saling menghakimi
satu sama lain, karena kita semua pun telah lepas dari hukuman oleh pengorbanan
Kristus.
2.
Saling membangun
Melihat
ada yang berkelebihan dan ada yang berkekurangan dalam banyak hal, seharusnya
membuat kita saling membangun.
2
Korintus 8:14 “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan
kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu,
supaya ada keseimbangan.”
Keseimbangan
inilah yang kita ingin capai dalam semua lini persekutuan. Ketika ada
keseimbangan, maka dasarnya sudah “rata” dan kita siap membangun, bersama-sama
bertumbuh dalam Tuhan dan mencapai kepenuhan Kristus (Efesus 4:13)
3.
Pembawa damai
sejahtera
Setelah
dari dalam jemaat kita sudah saling menerima, dan kita pun sudah jadi jemaat
yang bertumbuh, sudah saatnya kita keluar membawa terang kita kepada orang
lain. Orang lain yang dimaksud adalah jemaat yang lain selain jemaat kita,
tetapi juga orang lain yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak percaya.
Ketika
kita hidup ditengah-tengah orang yang tidak percaya, seharusnya menjadi
dorongan lebih kepada kita untuk lebih lagi menampakkan terang Kristus.
Sesuai
tema kita minggu berjalan ini, panggilan
orang percaya di Bumi milik Tuhan.
Di
dunia yang semakin berkabut, sudah seharusnya kita semakin giat memberikan
dampak.
Ketika
ada masalah, kita menjadi pembawa solusi.
Ketika
ada ketegangan, kita menjadi pembawa ketenangan.
Ketika
ada perpecahan, kita menjadi pemersatu.
Ketika
yang lain menyebarkan hoax, kita menyebarkan damai sejahtera.
Jika
tidak, maka kita telah kehilangan panggilan kita sebagai garam dan terang
dunia.
Jika
tidak, sama seperti garam yang telah tawar, tidak ada rasa, tidak ada dampak
lagi bagi sekitar.
Jadi
mari bertanya padi pribadi kita masing-masing apa yang telah kita buat bagi
sesama? apa dampak kita di lingkungan sekitar kita?
Apakah
ketika kita ada, suasana jadi damai?
Atau
malah ketika kita ada, suasana jadi kacau?
Apakah
ketika kita berbicara, orang merasa tenang?
Atau
malah orang merasa tidak tenang?
4.
Melakukan segala
sesuatu berdasarkan iman.
Yang
terakhir, Roma 14 ayat 23, bagian terakhir berkata “dan segala sesuatu yang
tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”
Artinya,
ketika kita sudah percaya bahwa kita adalah miliki Kristus dan Kristus adalah
pusat hidup kita, maka seharusnya ketika kita hidup bukan lagi kita sendiri
tetapi Kristus yang hidup dalam kita (Galatia 2:20)
Maka
kita seharusnya melakukan apa yang seharusnya Kristus lakukan.
Kita
lakukan segala sesuatu berdasarkan iman percaya kita, dan bukan atas dasar atau
motivasi lain.
Kita
lakukan segala sesuatu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23)
Dengan
berpegang terhadap prinsip yang demikian,
maka
kita menjadi orang-orang yang penuh kasih,
orang-orang
yang menerima, terbuka terhadap semua orang,
orang-orang
yang tidak menghakimi
orang-orang
yang membuat yang jauh menjadi dekat
sama
seperti yang telah Kristus lakukan.
Amin.

Comments
Post a Comment